Nov 8th

Rumah Singgah Digital

Date: November 8th, 2013 | Category: Uncategorized | 0


Masyarakat dibeberapa daerah perlu menempuh perjalaan darat yang cukup jauh untuk mencapai pusat keramaian atau pusat pemerintah. Karena itulah ada beberapa kelompok masyarakat menyediakan tempat singgah untuk mereka yang melakukan perjalanan jauh itu. Bentuknya bermacam-macam, mulai hanya gubuk biasa, pos keamanan, warung sederhana, atau mushola. Di tempat singgah inilah biasanya terutama para pelajar tersebut beristirahat. Tak jarang mereka memanfaatkan tempat ini untuk belajar terutama ketika pulang sekolah.

Ketika tempat singgah tersebut rutin di kunjungi oleh para pelajar dan masyarakat, alangkah baiknya jika ditempat itu tersedia fasilitas informasi dan pendidikan , seperti buku, majalah, koran dan dan konten pendidikan lain.Banyaknya kelompok masyarakat yang menggunakan tempat singgah ini, menjadikan konten penunjang pun harus bervariasi.

Agar konten yang tersedia bervariasi dan memudahkan penyimpanan, pengelolaan serta menampilkan konten tersebut,dibuatlah tempat kontent digital yang di kemas dalam satu paket RUMAH SINGGAH DIGITAL (RSD). Nantinya konten tersebut akan mudah untuk di perbaharui, konten tersebut akan disimpan didalam memory card dan di-play oleh mini pc yang terhubung ke layar monitor.

Untuk menghemat energi, di sediakan sensor gerak di mana jika tidak ada pengunjung yang sedang berada di rumah singgah tersebut, maka mini pc akan memerintahkan seluruh alat untuk suspend. Energi yang di gunakan menggunakan energi dari solar cell yang tersimpan dalam battery. Dengan menggunakan lampu Philips LED yang hemat energi, tempat singgah ini akan otomatis menyala dengan terang ketika hari gelap.

RSD ini tidak hanya di pergunakan untuk tempat singgah pelajar, bisa juga di jadikan tempat berkumpul para anggota masyarakat sekitar untuk menambah wawasan.

Tulisan di atas adalah ide saya untuk kompetisi ide ’Inovasi Penuh Makna Untuk Anda’ dari Philips kategori Inovasi Membangun Desa.  Karena hanya di batasi 250 kata, jadinya agak terbatas dalam menuliskan idenya … well itulah kompetisi, bagaimana caranya bisa mengungkapkan ide dalam 250 kata .. hehe.

Ok, di sini Saya mau cerita tambahan tentang latar belakang ide itu. Ide tersebut di dapat cerita saudara-saudara Saya yang tinggal di kampung halaman kami di Tasikmalaya. Ketika mereka bersekolah di sana, jarak dari rumah menuju sekolah (+/-)6 km.  Jarak tersebut umumnya di tempuh dengan berjalan kaki, dengan waktu tempuh sekitar 1.5 – 2 jam. Memang ada angkutan menuju ibukota kecamatan tempat di mana sekolah tersebut berada, tetapi kendala biaya yang menjadikan mereka selalu berjalan kaki. Jadi bisa di bayangkan jika harus masuk jam 7 pagi, jam 5 mereka sudah start berangkat sekolah. Ketika di tengah perjalanan, jika di rasa lelah, mereka akan beristirahat. Di daerah kami, selalu ada tempat persinggahan untuk para penduduk yang melakukan perjalanan dari dan ke kecamatan. Bentuknya bermacam2, di perbatasan kampung , berbentuk Pos Ronda, jika di sebelah sawah, bentuknya Gubuk yang di fungsikan untuk mushola kecil (Tajug – dalam bhs sunda) , atau jika di tengah perkampungan, bentuknya warung. Tempat-tempat inilah yangselalu di jadikan mereka yang melakukan perjalana, entah itu masyarakat umum dan terutama para pelajar. Oh iyah, Daerah kami, kecamatan itu merupakan pusat keramaian , pasar, sekolah dan kantor pemerintahan akan berada di sini.

Yang paling menggugah dan sampai saat ini masih suka terbayang adalah kejadian pada saat saya pun memahami kondisi itu.

Sekali waktu Saya berkunjung ke kampung halaman kami, saat itu Saya di minta oleh Bapak  untuk menanyakan pesanan Kemiri untuk bahan penelitian Bapak di Kantornya (Waktu itu Bapak bekerja sebagai peneliti di Pulitbangtri Dep. Pertanian ) . Jam 2 siang , Saya menginjakkan kaki di Kota kecamatan. Dari sini ada 4 km lagi untuk sampai ke rumah Paman. Walaupun ada Ojek,  Entah kenapa Saya tertarik untuk berjalan kaki, yah .. lumayan tinggal 4 Km Lagi :D . Kebetulan di depan saya, terlihat rombongan pelajar SMP yang sepertinya baru pulang sekolah. Yah .. lumayan ada teman, setidaknya klo melewati kuburan gak sepi-sepi amat … :D

Setelah 1 jam berjalan, saya perhatikan mereka mulai menepi dan berhenti di salah satu gubuk tempat singgah. Wah sepertinya mereka berisirahat nih. Tidak jauh dari gubuk tersebut ada warung kecil. Siip .. saya bisa nyari2 minuman buat ngisi tempat minum saya yang sudah menipis. Sambil mengisi air, dan mecomot goreng pisang, saya perhatikan anak-anak tersebut sepertinya membuka tas, ada yang mengeluarkan bekal dan yang menarik. ada yang mengeluarkan beberapa buku. dan mereka mulai menulis, dari kejauah sedikit terdengar obrolan mereka .. yah sepertinya mereka sedang mengerjakan PR atau tugas dari sekolahnya. Wah bakalan lama deh , pikir saya. Yah sudah, saya pun langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan … iyah laper banget.

Sore hari setelah melepas lelah, saya berjalan-jalan di sekeliling kampung. Ketika melewati pos ronda, ada sekelompok anak sedang menulis di papan tulis yang biasanya berisi jadwal ronda. Mungkin mereka sedang menggambar, tapi ternyata ada seorang anak yang sedang mengajarkan anak lain tentang hitung-hitungan .. yah sepertinya anak tersebut sedang belajar Matematika.

Dari situlah tersbersit ide, jika tempat-tempat tersebut sebenarnya bisa di jadikan tempat berkumpul sementara anak2 dalam berbagi informasi. Belakangan tempat tersebut di sebut Rumah Singgah.  Kejadian 15 thn yang lalu itulah yang memberikan inspirasi terhadap ide Rumah Singgah Digital. Dan kenangan – kenangan lama pun tergali kembali ketika membaca tentang kompetisi Inovasi Penuh Makna Untuk Anda dari Philips

 

 

Jul 29th

Halaaaauuu

Date: July 29th, 2013 | Category: Uncategorized | 0


Setelah sekian lama gak posting, scrip blog kena trojan, ribet ngurus kerjaan, jalan2 kesana-kemari, baru kali ini update lagi :)

Klo ditanya kabar  … ya banyak lah, baik suka maupun duka.

Duka, karena tanggal 2 Juni 2013 kemarin, Bapak meninggalkan kami selama-lamanya :(

Klo kabar suka, si bungsu udah bisa lari2 :)

1-kamila_2013

Dec 6th

Keep Fighting

Date: December 6th, 2012 | Category: Uncategorized | 0


Ini sih buat motifasi pribadi aja,

Klo kita mendapatkan tanggung jawab apapun, cobalah selalu berusaha memikul tanggung jawab tersebut tanpa mengeluh dan menyalahkan dunia kenapa harus dapat tanggung jawab tersebut.

 

May 21st

Kamila Syafira

Date: May 21st, 2012 | Category: Uncategorized | 1


 

Maap udah telat tapi daripada enggak sama sekali :)

Perkenalkan ini Kamila Syafira, lahir 21 April 2012 , jadi hari ini adalah hari ulang bulan yang pertama

Klo ada yang nanya arti namanya,  Kamila artinya Sempurna, Syafira artinya Istimewa

Jadi maknanya adalah Anak yang sempurna dan teristimewa :)

 

Nov 14th


contoh_paspot SURAT PERJALANAN REPUBLIK INDONESIA (SPRI) atau dalam bahasa umumnya adalah PASPOR.

Jika di tanya mau kemana nih ?

Yah, sementara ini masih belum ada tujuan mau kemana heheh. Dulu sih sebelum Tuan Putri hamil … *ehem .. udah 4 bln*,  Kita sempat punya rencana berburu tiket murah ke Singapura atau Ke Phuket Thailand. Tapi karena kehamilannya, rencana2 itu tertunda deh.

Selang beberapa lama,  Saya sempat membaca artikel yang menjadi motivasi lain untuk mempunyai  paspor. Adalah artikel Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia Prof. Dr. Rheinald Kasali yang berjudul PASPORT.
Tulisan yang cukup menginspirasi dan lebih membulatkan tekad (*halah) untuk membuat dan mempunyai paspor :)

Beberapa saat setelah membaca artikel itu, mulailah saya mencari informasi tentang bagaimana cara mendapatkan paspor tersebut.

Dari beberapa artikel yang saya dapat, berbagai cara yang bisa di tempuh :

  • Melalui Biro Jasa / Agen Perjalanan
  • Mengurus Sendiri Ke Kantor IMIGRASI
Sudah di pastikan, Melalui Biro Jasa / Agen Perjalanan perbedaanya dari sisi biaya.  Secara umum biaya melalui biro jasa terbagi oleh waktu penyelesaian & kelengkapan administrasinya.
  1. Sehari  : Biayanya antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
  2. 3-4 Hari  : Biayanya antara Rp. 500.000 – Rp. 750.000
Ada range biaya di atas terjadi hanya karena subjektifitas antar agen atau bisa juga karena kelengkapan tambahan yang harus di sediakan. misalnya, keterangan beda nama antara akte & ktp / KK , surat rekomendasi perusahaan.
Sebagai bahan perbandingan sajah, biro jasa di Bandung, untuk pengurusan paspor 1 hari di kenakan biaya Rp. 1.000.000 (rata-rata).  Info ini Saya dapat dari rekan kantor yang akan berangkat ke LN,  karena memang butuh cepat dan mengejar jadwal project, perlu layanan ekspress.  Dari cerita beliau, memang kita sangat di mudahkan jika menggunakan biro jasa/agen/calo itu, Jam 10 dateng untuk Foto & Wawancara, jam 13 Paspor sudah selesai  (3 Jam !!!)  :)
Info lain masalah biro jasa / agen, bisa di cari via web info sejagad alias KASKUS :)
Pilihan mengurus sendiri ke Kantor Imigrasi awalnya Saya menyangka akan ribet banget, mengingat beberapa teman yang sudah mempunyai paspor menggunakan biro jasa dengan alasan praktis. Tapi karena niatnya ingin murah meriah dan memang tidak di buru waktu. Saya memutuskan akan mengurus sendiri saja.

So, inilah certainya …
What Next ? »